Tag

, , , , , , ,

Biar Nyambung baca dulu: Part 1

Kututup buku kecilku. Dan kulihat pelangi yang perlahan memudar. Berganti dengan sinar matahari yang terang. Aku bangkit dan bergegas pulang.

Aku sampai dirumah, tempat yang menurutku adalah surga dunia. Biasanya Ibu sudah menungguku pulang didepan rumah. Tak seperti biasanya, Ibu tak menungguku. Kubuka sepatu dan kulangkahkan kaki masuk kedalam rumah.

Kulihat Ibu sedang tertunduk disebuah bangku meja makan. Disekelilingnya peralatan dapur yang sudah butut berserakan layaknya habis gempa. Aku duduk disebelah Ibu. Aku mencoba bertanya Ada apa dengan bahasa yang biasa kupakai, bahasa tubuh. Namun Ibu hanya diam.

Kulihat matanya yang merah dan sedikit membengkak. Air matanya masih keluar. Kuputuskan untuk meninggalkannya sendiri, walaupun sebenarnya aku ingin menghiburnya.

Andai saja aku bisa bicara…

Kata-kata yang selalu menghantuiku disaat seperti ini.

Aku bersiap berangkat sekolah. Wajah Ibu masih murung. Matanya sedikit lebam. Ia tak banyak bicara seperti biasanya. Cuaca mendung, semendung hati Ibu. Matahari tak ingin menampakan keceriaan disaat Ibu sedang murung.

Dikelas Aku hanya diam dan melamun. Memikirkan Ibu seorang diri dirumah. Omongan dari guru-guru pun hanya hinggap dikepalaku sedikit dan hilang dengan hitungan sepersekian detik. Layaknya garam larut dalam sayur asem buatan Ibu.

Aku lapar…

Hari ini Aku tak membawa bekal seperti biasanya. Ibu tak memasak. Aku makan beberapa makanan kecil untuk mengganjal perutku. Setelah itu kubuka buku catatan kecilku dan ku tulis beberapa kata.

Jeritan Si Bisu

Ibu…

Andaikan aku dapat berbicara

Kan kuhibur engkau dengan canda

Tuk hilangkan duka lara

Buat kau tersenyum bahagia

 

Ibu…

Andai lidah ini dapat berucap

Andai lidah ini tak seperti batu

Aku berjanji takkan sakiti hati

Kan kulindungi dirimu dari cerca

Bersambung …

Iklan