Tag

, ,

Dua belas. Aku ingat pertama kali kita bertemu. Aku senyum lalu kau balas. Meski seperti tak pantas. Kuberanikan diriku tatap wajahmu yang hingga kini masih berbekas.

Dua belas. Kamu sosok yang sangat berkelas. Beda denganku yang lebih mirip pengemis. Itulah yang buat aku selalu pesimis. Banyak mereka bilang aku tak pantas tuk beri tinta emas pada hatimu. Ya aku tahu aku tak pantas lagi pula tinta emas terlalu mahal bagiku yang bukan berdasi plus berambut klimis.

Dua belas. Kamu selalu bilang punya banyak kenangan dengan manusia berdompet panas. Namun kamu seperti belum puas, selalu mencari yang lebih panas, hingga sekarang berhenti padaku yang untuk melihat dompet pun malas.

Dua belas. Kau tak pernah bilang padaku apa yang membuatmu terpincut, seperti terpelet. Padahal aku tak punya benda pamungkas selain burung yang kusimpan rapat dan batu akik warna emas.

Dua belas. Kita sudah menjalani hari demi hari dengan hal yang tak jelas. Bahkan hubungan kita pun tak jelas. Tanpa status. Aku pernah bertanya pada pak ustad, dan ternyata ini dosa. Namun kurasa ini cinta buta. Yang tak pandang siapa kita. Ya walaupun kutahu hubungan ini erat kandas.

Dua belas. Jadi maukah kamu temani hari lebih dari ini? Dengan bebas tanpa cibiran tetangga yang punya mulut pedas. Namun aku mohon jangan jawab disini. Aku takut istriku tahu, kamu kekasih gelapku.

*Jawabnya dikomentar aja yaa πŸ˜€

Iklan