Tag

, , ,

Di sebuah rumah berpetak ukuran 3×4 meter itulah ayah bersiap. Badannya diselonjorkan ke tembok putih yang catnya banyak terkelupas. Dihisapnya sebuah rokok kretek bertuliskan 345.

Kulitnya yang kecoklatan telah kendor dimakan usia membuat urat di sekitar lengannya dengan jelas menampakan rupanya. Di wajahnya jelas terlihat banyak asam garam telah dilaluinya.

“Kopinya pak”  kata sembari Rini menaruh sebuah kopi hitam tanpa gula kesukaan ayahnya.

“Sini nak”

Rini duduk di samping ayahnya yang kemudian mematikan rokoknya yang masih setengah batang.

“Kamu malam ini mau kemana?”

“Aku mau ke rumah Bibi Rita yah, mau ada bakar-bakar di sana aku suruh datang.”

Ayah menarik nafas panjang. “Pacar kamu gimana?”

“Nanti dia kesini, aku kesana sama dia”

Ayah menganggukkan kepalanya. Di kepalanya berkecamuk hal-hal aneh.

“Kenapa yah?”

Ayah memandang dinding rumahnya yang dihinggapi beberapa buah bingkai berisi gambar perempuan dengan rambut panjang sebahu yang di kuncir kuda. Istrinya yang mirip dengan anak gadisnya, Rini. Diseruputnya kopi hitamnya. Dengan suara yang sedikit berat ayah berkata:

“Ayah takut, tahun baru begini alat kontrasepsi laku keras.” Ucapnya lirih.

“Kamu udah besar nak, umur kamu sudah 21. Kamu tahu mana yang bagus mana yang jelek”

“Sebetulnya kalau pacarmu melamar ayah pasti kasih restu, gak perlu mewah yang penting bisa menghalalkan kalian.”

“Tapi jangan sampai kamu dicoba dulu sama dia, baru dia minta restu. Gusti Allah gak suka nak”

Ayah menyeruput kopinya kembali, pandangannya memandang dalam foto istrinya di dinding.

“Iya pak, Insya Allah aku bisa jaga diri”

“Bapak percaya kok sama kamu” ucap ayah sembari mengelus rambut anak gadis satu-satunya.

Dari kejauhan terdengar suara motor 2-tak yang lumayan memekakkan telinga berhenti di depan rumah.

Seorang yang tinggi membuka helmnya. Bibirnya hitam, namun tak sehitam kulitnya. Rambutnya sedikit gondrong namun di sisir rapi ke atas. Khas anak alay masa kini. Jaket kulit buatan garut itu terlihat mengkilap dipakainya.

“Assalamualaikum” ucapnya sembari tersenyum lebar. Gigi putihnya mengintip dari bibirnya yang hitam. Sungguh pemandangan yang kontras.

“Waalaikum salam”

Lelaki itu melangkah masuk lalu bersalaman dengan Ayah dan Rini.

“Kopi atuh” ucapnya ketika melihat kopi hitam milik ayah sembari nyengir kuda.

“Kamu taon baruan kemana?” ucap Ayah sembari menyalakan rokoknya yang tinggal setengah batang tadi.

“Gak kemana-mana. Paling nongkrong sama temen-temen.”

Ayah menganggukkan kepalanya. “Jagain Rini yah, takut kenapa-napa.”

“Oke boss” ucap Heri sembari memberi hormat layaknya prajurit.

“Yaudah hayu berangkat, udah jam 7”

Rini datang membawa kopi hitam pesanan kakaknya.

“Ini kopinya ih, malah pergi!!”

“Taruh aja dulu, mau nganter ayah”

“Ayah berangkat yaah, kamu jangan pulang pagi. Kalau acaranya udah selesai langsung pulang”

“Iya yah” ucap Rini sembari mencium tangan ayahnya yang kemudian hilang ditelan malam bersama suara motor Heri”

**

Disebuah jala raya pinggiran Jakarta Heri duduk. Motor 2-tak yang dulu berjuluk Raja jalanan berjejer rapi dan bersih kinclong. Jauh dari kesan gembel menurut orang-orang.

Beberapa gelas kopi tersedia, bir bermerk Bulan, sampai anggur merah yang katanya tidak membuat mabuk pun tersedia. Di tambah selusin bungkus rokok bergambar kuda kembar menambah kenikmatan malam itu.

“Eh lu diem mulu, minum dong”

Heri nyengir. “Ini gue minum” sembari menyeruput kopi yang mulai dingin.

“Bukan itu, yang ini dong” ucap Yadi sembari menyodorkan bir bermerk Bulan.

“ah sorry bro, gue udah gak minum lagi”

“Yaudah kalo gak mau minum, nih coba”  Yadi melemparkan sebuah kardus kecil.

“Apaan ini?”

“Udah coba aja, biar kita sama-sama hehe” Yudi tertawa. Mulutnya mengeluarkan aroma naga.

“Yoi men, enak banget rasanya” Reza menimpali.

Heri bangkit, di bawanya plastik itu ke tempat terang. DI lihatnya dengan seksama kardus yang bertuliskan Trihexyphenedyl  2mg.

“Kaya kenal ini barang” Heri langsung teringat sesuatu. Ia langsung menuju motornya.

“Gue pergi dulu ya bro, nanti balik lagi”

Di putarnya tuas gas hingga asapnya seperti sedang fogging. Ia menuju ke sebuah palang pintu kereta  tak jauh dari tempatnya nongkrong.

Bersambung.

Iklan